Isra Mi’raj : Kisah Perjalanan Agung

Malam itu, Kota Makkah terlelap dalam sunyi. Bintang-bintang menggantung tenang di langit, seakan menunggu sesuatu yang agung akan terjadi. Di tengah kesunyian itu, Nabi Muhammad ﷺ baru saja melewati masa paling berat dalam hidupnya. Orang-orang yang beliau cintai telah berpulang, dan dakwahnya penuh ujian.
Di saat seperti itulah, Allah SWT menghadiahkan sebuah perjalanan luar biasa.
Malaikat Jibril datang menemui Nabi Muhammad ﷺ, membawa kendaraan putih bercahaya bernama Buraq. Dalam sekejap, perjalanan yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan namun hanya dalam satu malam saja. Nabi Muhammad ﷺ dibawa dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa—tempat suci yang diberkahi.
Setibanya di Masjidil Aqsa, sebuah pemandangan menggetarkan hati terbentang. Para nabi terdahulu telah berkumpul. Nabi Muhammad ﷺ berdiri di depan mereka, menjadi imam dalam salat. Malam itu, beliau memimpin para utusan Allah, seakan menegaskan bahwa risalah Islam adalah penyempurna dari semua risalah sebelumnya.
Namun perjalanan belum berakhir.
Dari Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad ﷺ kembali naik bersama Malaikat Jibril—menembus lapisan demi lapisan langit. Di setiap langit, beliau bertemu para nabi: Nabi Adam, Nabi Isa, Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dan nabi-nabi lainnya. Hingga akhirnya, beliau sampai di tempat yang tak mampu dijangkau makhluk mana pun selain atas izin Allah: Sidratul Muntaha.
Di sanalah, dalam keheningan yang penuh keagungan, Nabi Muhammad ﷺ menerima perintah langsung dari Allah SWT: salat. Awalnya lima puluh waktu, sebagai bukti betapa pentingnya ibadah ini. Namun karena kasih sayang Allah dan kepedulian Nabi Muhammad ﷺ kepada umatnya, perintah itu menjadi ringan dari lima puluh waktu menjadi lima waktu sehari, dengan pahala yang tetap besar.
Ketika fajar menyingsing, Nabi Muhammad ﷺ kembali ke Makkah. Malam itu telah berlalu, namun pesannya abadi. Salat bukan sekadar kewajiban, melainkan hadiah. Sebuah pertemuan antara hamba dan Tuhannya, yang lahir dari perjalanan paling agung dalam sejarah.
Hingga hari ini, setiap kali kita berdiri untuk salat, sejatinya kita sedang mengingat kembali pada peristiwa Isra Mi’raj, malam ketika langit terbuka, dan Allah SWT memanggil umat Nabi Muhammad ﷺ untuk datang mendekat kepada-Nya.
