Maulid Nabi Muhammad SAW selalu menjadi momen yang dinanti oleh umat Islam. Selain menjadi bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW, peringatan ini juga menghadirkan kesempatan bagi santriwati yahqi untuk berkumpul, bersholawat, mengenang perjuangan Rasulullah, dan mempererat tali silaturahmi.
Pada tahun 2026, umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal 1448 H. Dalam sebuah rangkaian acara Maulid Nabi yang berlangsung pada malam hari, jamaah merasakan suasana yang begitu khidmat, haru, dan penuh kebersamaan.
Sejak selepas Magrib, jamaah mulai mengikuti pembacaan Dhiba. Kemudian, setelah Isya, acara memasuki puncak dengan sholawatan yang diiringi alunan musik rebana. Setelah itu, jamaah menyimak ceramah, mendapatkan gemblengan dari Abuya, mengikuti doa bersama, dan menutup malam dengan kegiatan tukar hadiah.
Dhiba Setelah Magrib Membuka Rangkaian Maulid Nabi
Selepas salat Magrib, para jamaah mulai berkumpul di tempat acara. Suasana malam terasa tenang ketika pembacaan Dhiba dimulai.
Seluruh santriwati yahqi melantunkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW secara bersama-sama. Suara sholawat pun memenuhi tempat acara dan membuat suasana terasa semakin khidmat.
Selain itu, lantunan Dhiba membawa jamaah untuk kembali mengingat perjalanan hidup Rasulullah SAW. Perlahan, rasa cinta dan rindu kepada beliau semakin terasa di tengah kebersamaan tersebut.
Seluruh santriwati yahqi ikut menyimak dan mengikuti lantunan Dhiba. Karena itu, pembukaan acara terasa begitu sederhana, tetapi mampu menghadirkan suasana yang menyentuh hati.
Puncak Acara Setelah Isya dengan Sholawatan dan Rebana
Setelah salat Isya, jamaah kembali berkumpul untuk mengikuti puncak acara. Kali ini, suasana berubah menjadi lebih semarak ketika lantunan sholawatan mulai terdengar.
Para jamaah bersholawat bersama dengan penuh semangat. Sementara itu, alunan musik rebana mengiringi setiap lantunan sholawat sehingga suasana malam terasa semakin hidup.
Tabuhan rebana berpadu dengan suara jamaah yang bersholawat. Perpaduan tersebut menciptakan suasana yang penuh kebahagiaan sekaligus mengharukan.
Ketika sholawatan berlangsung, banyak jamaah ikut berdiri dan menghayati setiap lantunan. Seluruh santriwati yahqi pun tidak mau ketinggalan untuk ikut memeriahkan acara.
Dengan demikian, sholawatan tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian acara. Momen tersebut juga menjadi sarana bagi jamaah untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW.
Ceramah Maulid Nabi Penuh Nasihat
Setelah sholawatan dan rebana selesai, acara kemudian berlanjut dengan pidato dan ceramah Maulid Nabi.
Pada kesempatan tersebut, penceramah mengajak jamaah untuk mengenal kembali akhlak dan keteladanan Nabi Muhammad SAW. Selain itu, jamaah juga diajak untuk memahami perjuangan Rasulullah dalam menyampaikan ajaran Islam.
Kisah tentang kesabaran, perjuangan, dan kasih sayang Rasulullah kepada umat menjadi bahan renungan bagi para jamaah.
Suasana yang sebelumnya ramai dengan sholawatan perlahan berubah menjadi hening. Para jamaah menyimak ceramah dengan penuh perhatian.
Lebih dari itu, ceramah tersebut mengingatkan jamaah bahwa rasa cinta kepada Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan ucapan. Setiap umat juga perlu menunjukkan kecintaan tersebut melalui akhlak dan perilaku sehari-hari.
Gemblengan Abuya yang Menyentuh Hati
Setelah ceramah selesai, acara dilanjutkan dengan gemblengan Abuya. Sesi ini menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan oleh jamaah.
Abuya menyampaikan berbagai nasihat tentang kehidupan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Beliau juga mengingatkan jamaah untuk menjaga ibadah, menghormati orang tua, mempererat persaudaraan, dan mengikuti akhlak Rasulullah SAW.
Nasihat tersebut membuat suasana malam semakin terasa mendalam. Para jamaah tidak hanya menikmati kemeriahan Maulid Nabi, tetapi juga mendapatkan pelajaran yang dapat mereka bawa pulang.
Selain itu, gemblengan Abuya menjadi kesempatan bagi jamaah untuk melakukan introspeksi. Setiap orang kembali diingatkan agar terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah.
Doa Bersama Menjadi Penutup yang Mengharukan
Setelah seluruh rangkaian acara selesai, jamaah kemudian mengikuti doa bersama.
Suasana kembali hening dan penuh kekhusyukan. Para jamaah mengangkat tangan dan memanjatkan doa dengan penuh harapan.
Mereka memohon keberkahan, kesehatan, keselamatan, serta kebaikan untuk keluarga dan seluruh umat Islam. Di tengah suasana malam yang semakin larut, doa bersama menghadirkan salah satu momen paling mengharukan.
Setelah melewati rangkaian Dhiba, sholawatan, rebana, ceramah, dan gemblengan Abuya, jamaah akhirnya menutup acara dengan doa. Momen tersebut menjadi pengingat bahwa Maulid Nabi bukan hanya tentang kemeriahan, tetapi juga tentang mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meneladani Rasulullah SAW.
Tukar Hadiah Menutup Acara dengan Kebahagiaan
Setelah doa selesai, suasana kembali berubah menjadi lebih ceria. Para jamaah kemudian mengikuti kegiatan tukar hadiah satu sama lain.
Setiap orang memberikan hadiah kepada peserta lainnya. Nilai hadiah bukan menjadi hal utama karena kegiatan tersebut lebih mengutamakan kebersamaan, kepedulian, dan rasa saling berbagi.
Senyum dan tawa pun kembali menghiasi tempat acara. Anak-anak terlihat antusias, sementara para orang tua dan pemuda ikut menikmati momen kebersamaan tersebut.
Dengan cara sederhana itu, kegiatan tukar hadiah menjadi penutup yang menyenangkan setelah seluruh rangkaian Maulid Nabi berlangsung dengan penuh kekhidmatan.
Maulid Nabi Menjadi Momen untuk Mempererat Silaturahmi
Rangkaian Maulid Nabi Muhammad SAW malam itu meninggalkan kesan yang mendalam bagi santriwati yahqi. Acara dimulai selepas Magrib dengan pembacaan Dhiba, kemudian berlanjut setelah Isya dengan sholawatan dan alunan rebana.
Selanjutnya, jamaah menyimak ceramah dan mendapatkan gemblengan Abuya. Setelah itu, mereka mengikuti doa bersama dan menutup acara dengan tukar hadiah.
Setiap rangkaian menghadirkan suasana yang berbeda. Dhiba menghadirkan ketenangan, sholawatan dan rebana membawa kegembiraan, ceramah memberikan nasihat, gemblengan Abuya menjadi bahan renungan, sedangkan doa menghadirkan kekhusyukan.
Pada akhirnya, kegiatan tukar hadiah membawa kembali suasana ceria dan mempererat hubungan antarsesama jamaah.
Maulid Nabi bukan sekadar acara tahunan. Peringatan ini menjadi kesempatan untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, mempererat silaturahmi, dan mengingat kembali pentingnya mengikuti akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga lantunan sholawat, nasihat, dan doa yang kita panjatkan menjadi keberkahan bagi seluruh jamaah. Semoga kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW terus tumbuh dalam hati dan mendorong kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.



